Sabtu, 11 Februari 2012

Pulau Nusa Barong


JEMBER - Jember ke depan bakal mempunyai tempat wisata alam dan bahari yang tak kalah dengan daerah lain. Kawasan yang akan dirombak menjadi tempat wisata alam dan bahari itu adalah Pantai Puger dan Pulau Nusa Barong. Untuk mewujudkan itu Bupati Jember M.Z.A Djalal Rabu (15/10) mengunjungi pantai Puger dan Nusa Barong. Selain mengajak beberapa kepala dinas, Bupati Djalal juga mengajak dua investor asal Surabaya untuk melihat langsung potensi dan keindahan pantai yang berbatasan langsung dengan pantai Selatan itu.
Rombongan Bupati dan pejabat pemkab yang berangkat dari Pantai Pancer sekitar pukul 10.00 tiba di Teluk Jeruk Pulau Nusa Barong sekitar pukul 11.00. Bupati Djalal berkeyakinan bisa merubah Pantai Puger dan kehidupan masyarakatnya menjadi yang lebih baik lagi. ‘’Untuk merubah semua ini harus mendapat dukungan dari semua pihak khususnya masyarakat Puger, tempat wisata ini bisa dirubah menjadi tempat wisata yang lebih modern, ‘’ katanya.
Untuk mewujudkan rencana itu memang membutuhkan anggaran yang cukup besar. Untuk itu pemkab akan mengajukan proposal ke provinsi dan pemerintah pusat.
Selain itu, pihaknya juga terus melakukan studi banding ketempat-tempat wisata lainnya. ‘’ Insya Allah 2009 akan dimulai dengan pembangunan fisik yang mendukung untuk menuju wisata internasional’’katanya.
Langkah pertama yang akan dilakukan adalah memperbaiki jalur menuju dermaga dan membangun tempat bersandarnya kapal nelayan. Saat ini kata Djalal tidak semua warga puger bisa datang ke Nusa Barong. ‘’Kalau sudah disulap menjadi tempat wisata tidak hanya warga Jember saja yang datang tapi dari luar Jember dan mancanegara,’’ ujarnya. Sehingga, selain memiliki pantai Watu Ulo nantinya Jember akan memiliki wisata lain yaitu Puger dan Nusa Barong.
Nusa Barong kata Djalal mempunyai potensi yang di kelilingi perikanan kelautan dan wisata alam dan cagar alam. Secara kelembagaan pihak BKSDA kata dia juga mendukung dan mengusulkan Nusa Barong untuk dijadikan wisata alam. (jum/Erje)

JADI DAYA TARIK:

JADI DAYA TARIK:
Keindahan Perairan Teluk Jeruk saat air surut bisa menjadi daya tarik wisatawan

DINDING PADAS:

DINDING PADAS:
Sebuah jukung melintas di bawah karang setinggI puluhan meter meter di salah satu sudut pulau Nusa Barong.

MINIM TANGKAPAN:

MINIM TANGKAPAN:
Minimnya ikan membuat perahu besar ini ikut mencari ikan di tepian Nusa Barong

SURGANYA PEMANCING:

SURGANYA PEMANCING:
Air laut yang tenang di sisi utara Nusa Barong menjadi surga bagi para pemancing.

BUKIT TERBELAH:

BUKIT TERBELAH:
Hantaman ombak Samudra Hindia telah mengikis bukit karang ini hingga tinggal separo dan membentuk lubang yang menganga.

PIRAMID KARANG:

PIRAMID KARANG:
Karang di sebelah Teluk Kandangan tempat bertelurnya penyu di sisi selatan Nusa Barong.Karang di sebelah Teluk Kandangan tempat bertelurnya penyu di sisi selatan Nusa Barong.

Lambaian Pejabat

Lambaian Pejabat
Jajaranpejabat Pemkab Jember usai pulang dari Nusa Barong

SAPA NELAYAN:

SAPA NELAYAN:
Bupati Djalal menyapa para nelayan asal Payangan Watu Ulo yang mencari ikan di Pulau Nusa Barong.

TINJAU LANGSUNG:

TINJAU LANGSUNG:
Bupati Djalal dan dua investor melihat Peta Nusa Barong Sudarno, staf Kecamatan Puger

UWIH…, DINGINNYA!:

UWIH…, DINGINNYA!:
Bupati Jember M.Z.A. Djalal dan Wabup Kusen Andalas bersama pejabat Pemkab Jember merasakan dinginnya perairan Teluk Jeruk

Meluncur:

Meluncur:
UNTUK menuju Pulau Nusa Barong, rombongan mengunakan speed bout.

BERSANTAI:

BERSANTAI:
Sambil menunggu air pasang, beberapa kepala dinas Pemkab Jember menghabiskan waktu dengan tiduran di pinggir pantai Nusa Barong.

Rehat Dulu AH!

Rehat Dulu AH!
Setelah kelelahan menempuh perjalan jauh, Bupati Djalal menyempatkan istirahat sejenak bersama kepala dinas lainnya sambil menunggu air laut pasang hingga sore.

WISATA ALAM:

WISATA ALAM:
Keindahan sekeliling pulau Nusa Barong yang masih dipenuhi pepohonan menghijau.

Fenomena Piramida Garut


Indonesia punya piramida ? Ya, letaknya di Gunung Sadahurip, Desa Sukahurip, Kec.Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Piramida merupakan struktur bangunan limas dengan beberapa sisi, banyak terdapat di Mesir dan di Semenanjung Yucatan, bagian utara Meksiko yang menjadi pusat peradaban bangsa Maya. Fungsi piramida itu sendiri antara lain sebagai tempat pemujaan, makam penguasa dan lumbung pangan. Selain di kedua lokasi tersebut, piramida juga dikabarkan terdapat di Cina (Provinsi Xaanshi), bahkan di Segitiga Bermuda.
Keberadaan Piramida di Garut, terungkap ketika Tim Katastropik Purba menemukan fakta, bahwa bangunan berbentuk limas yang terpendam sampai kedalaman lima meter di Gunung Sadahurip, merupakan sebuah piramida yang umurnya lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Piramida Giza yang tepatnya berlokasi di Nekropolis merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia, diduga pembangunannya berlangsung selama 20 tahun dan dapat dirampungkan tahun 2560 sebelum masehi (SM). Menurut hasil penelitian secara intensif dan uji karbon, dapat dipastikan piramida Garut lebih tua dibanding piramida Giza.
Uji karbon sendiri sebenarnya mulai diterapkan sekitar tahun 1940-an, terutama ketika waktu paruh radiokarbon dapat diketahui, yaitu 5.568 tahun. Oleh sebab itu semua benda yang mengandung unsur radiokarbon dapat dilacak umurnya. Namun benda yang lebih tua dari 70.000 tahun, tidak dapat dilacak, karena unsur radiokarbonnya sudah habis meluruh.
Pernyataan mengenai kepastian adanya Piramida di Garut disampaikan oleh Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Menurutnya, dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza.
Sebelumnya, Tim Bencana Katastropik Purba yang beranggotakan ahli-ahli kebumian dari lembaga-lembaga riset dan perguruan tinggi di Indonesia yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana akan mengusulkan kepada Presiden, supaya obyek riset yang meliputi Gunung Kaledong, Gunung Putri (Gunung Sadahurip, lokasi di mana piramida ditemukan), dan Gunung Haruman (semuanya di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat), dijadikan cagar budaya. Hal itu setelah melalui metoda ilmu kebumian, meneliti sumber-sumber bencana alam dan melacak informasi dari masa lalu yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik.
Menurut Koordinator Tim Bencana Katastropik Purba, Erick Ridzky, bahwa penelusuran yang dilakukan berdasarkan kajian morfologi dan geologi detil, dengan memanfaatkan peta-peta GIS Digital Elevation Map (DEM) dan citra satelit beresolusi tinggi. Langkah-langkah pengembangan metoda tomografi dan pencitraan struktur bawah permukaan dengan mempergunakan peralatan geofisika terkini. Termasuk metoda geolistrik, georadar, elekromagnetik, dan magneto-graviometer, telah memetakan struktur anomali dari obyek penelitian ketiga gunung tersebut. Pemeriksaan materi dan analisis radiometric dating atau penentuan umur batuan(lapisan) juga telah dilakukan.
Temuan Piramida di Garut mengungkapkan adanya peradaban tingkat tinggi di tanah Pasundan itu pada sekitar 4600 tahun yang lalu. Angka tersebut diperoleh dari fakta penelitian, bahwa piramida di Garut lebih tua dibanding piramida Giza di mesir yang selesai pembangunannya tahun 2560 SM. Sebagaimana diketahui, untuk membangun sebuah piramida diperlukan teknologi konstruksi, teknologi bahan (material), serta kemampuan manusia baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk menyelesaikan sebuah piramida diduga memerlukan waktu 20 tahun, dengan melibatkan sekitar sepuluh ribu orang.
Sebagaimana lokasi piramida di Mesir atau Meksiko, biasanya diwarnai dengan berbagai mitos dan legenda. Begitu pula lokasi pramida Gunung Sadahurip, oleh warga setempat dianggap keramat, meskipun di sekitar lokasi banyak dijadikan lahan budidaya tanaman palawija dan sayuran. Para peneliti dari dalam dan luar negeri, serta masyarakat atau wisatawan makin banyak yang mengunjungi lokasi tersebut.
Letak Gunung Sadahurip di sebelah timur Kampung Cicapar, Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan, sedangkan sebelah barat Kampung Sindanggalih, Desa Sindanggalih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut.  Keberadaan piramida yang masih terpendam tersebut diyakini akan mendongkrak sektor pariwisata Kabupaten Garut khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Apalagi setelah dilakukan penggalian material dan rekonstruksi bangunan, maka para wisatawan manca negara pun akan membanjiri lokasi ini. Dengan sendirinya berbagai infrastruktur penunjang seperti bandara, jalan, hotel dan restoran harus disiapkan.
Keberadaan piramida di Garut menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia termasuk cikal bakal peradaban dunia. Adanya patahan gempa bumi dan erupsi gunung berapi dalam periode tertentu, antara lain berdampak pada kerusakan dan tertimbunnya pusat peradaban dunia tersebut di perut bumi. Nah, inilah salah satu hal yang dilakukan Tim Bencana Katastropik Purba, menelusuri kejayaan budaya masa lampau.

Sabtu, 15 Oktober 2011

pulau karimun


skrinsyut pulau menjangan kecil.
sore ini saya mendapat surprise. blog baru bolehnya saya mondok di wordpress mendapat 1 komen. komen ini gag sembarang komen,  tokoh yang sangat disegani di blogsphere maupun di jagad hiburan nasional. langsung saja ini requestnya saya posting. karimunjawa. pulau yang berjarak 90 KM dari jepara atau 120 KM dari pelabuhan tanjung mas semarang ini ternyata memikat beliau. saya 4 kali kesana. kali pertama adalah medio juni 2007 ini diikuti dengan perjalanan perjalanan lain yang sangat menyenangkan. ini rute yang bisa ditempuh jika ingin berkunjung ke karimun.
1. via pelabuhan kartini jepara dari semarang anda naik kendaraan umum turun terminal jepara baru. dari terminal jepara sudah dekat dengan pantai kartini. disini lah kapal feri pengangkut kita berlabuh. jarak 90 KM ditempuh 6 jam menggunakan kapal ini. tapi bisa kurang bisa lebih. kalau anda lagi beruntung bisa 4 jam. ini tergantung pada ombak yang kadang menghambat perjalanan kita dan kesehatan kapal. kapal berangkat hari sabtu dan kadang hari kamis. tiket bisa ditebus sekitar 35000 rupiah kalau belum naik sekitar segitu. sampai dikarimun sekitar pukul 13.00 perjalanan yang panjang dan melelahkan. saya pernah 1 kali via jepara. sangat menarik memang. tapi agak sedikit capek.
2. via pelabuhan tanjung mas semarang(kalau berdompet lumayan)—>kapal kartini 1 dari terminal terboyo langsung saja mengambil bis kota jurusan lewat terminal poncol. dari situ mbecak saja sampai kepelabuhan. pemberangkatan kapal jam 6 pagi. jangan terlalu siang datengnya. disamping telat nanti kena ROB. cari tiket ke karimun di loket dengan tarif 150rb untuk vip. 125 ribu untuk kelas A. 100ribu untuk kelas B. sebenarnya sama saja. hanya letak tempat duduknya saja yang berbeda. jarak 110 KM(sedikit lebih jauh) tapi jarak tempuh lebih cepat karena kapal kartini 1 lebih cepat dan gesit dari pada kapal dari jepara. sampai di karimun sekitar pukul 11.00 lantas apa yang kita lakukan setelah disana. biasanya information center nya sering ngaco. disarankan pake biro saja. ini yang harus dilakukan ketika sampai(kalau tidak menggunakan biro perjalanan).
1. pastikan tidak ada barang yang tertinggal dan bergegas turun.
2. langsung mencari hotel terdekat. radius 2 KM banyak hotel baik kepunyaan pemerintah, swasta asing, ataupun milik penduduk sekitar.
3. setelah mendapat hotel langsung mencari pak ARI nmr HP hubungi saya. disana ada beberapa yang mengakomodir kita. istilahnya kita membeli paket wisata. seharga 300ribu. kita dapat tour keliling pantai2 di pulau karimun(karimunjawa kepulauan ada 27 pulau. ex : kora kora, nyamuk, menjangan besar, menjangan kecil, karimun). paketnya meliputi penginapan(kalo anda belum dapat), makan 5X, transportasi dari pulau kepulau. biasanya menyediakan alat2 scuba dan sorkling seharga 25 ribu sehari (snorkling).
4. setelah semuanya dapat tour pun langsung dimulai. siapkan diri anda dan manjakan mata anda dengan perjalanan sepanjang karimun jangan bayangkan aspal halus disana. semuanya masih batu alam. hanya sebagian kecil saja yang beraspal. tour dimulai dari menyisir pantai pantai indah dikarimun(agak lupa namanya saking seringnya menyebut nama) kemudian tiba di pelabuhan untuk menikmati sunset yang sangat indah.

ini skrinsyut pulau menjangan besar.
dipagi harinya siapkan diri untuk tour de karimun archipelago (halah berlebihan). yang pertama kita ke pulau menjangan kecil(skrinsyut diatas) disana terhampar pulau yang sangat indah yang tidak berpenghuni(ada dink, pemilik kebun kelapa yang siap memetikkan kelapa muda buat kita)

ini lebih dekatnya pulau menjangan kecil. bayangkan sampeyan bulan madu disini. gag ada yang mengganggu sampeyan mau lari lari sambil bugil di pulau ini. pasirnya putih dan sangat bersih. tapi hati hati terhadap bulu babi. ini sangat berbahaya. waspada juga ikan barakuda. ini musuh utama nelayan karimunjawa(sekali tubruk kaki patah). silahkan menikmati pulau ini sepuasnya. sebelum sampai pulau ini boat yang membawa sampeyan akan berhenti ditengah laut guna melihat taman bawah laut.silahkan nyelam sepuas puasnya disini. taman bawah laut 1-2 meter dibawah anda. mengagumkan dan menakjubkan. apalagi kalau mau diving (inzaghi yang jago) akan lebih hebat lagi.
selepas dari menjangan kecil ke menjangan besar untuk melihat penangkaran hiu(sayang sekali gambar saya hilang) disini saya mendapat musibah. HP nokia comunicator saya nyemplung ke laut(labur bunga pas kesana) sehingga gambar2 saya hanya minta dari teman2 yang ndoyok bareng saya. melihat penangkaran hiu dari dekat. sampeyan kalau mau berenang juga sangat aman.ngga akan digigit (i did it, i swore). sepuasnya berenang disana. ada ikan finding nemo juga(lupa namanya). perjalanan saya menjelajah karimun cuma hanya sampai segitu. karena keterbatasan kantong. sebenarnya saya kepingin ketemu om saya di pulau nyamuk. tapi katanya itu masih 1 hari perjalanan darat dan menyeberang. saya urungkan pula niat saya untuk ke korakora resort. mr john im so sorry i cant join your invitation to korakora. gila aja, nambatin perahu aja 200ribu. belum charge per orangnya.
sangat ingin sebetulnya. tapi karena keterbatasan uang dan jauhnya kora kora resort(pulau ini udah bukan punyae indonesia lagi. udah dibeli mr jhon orang swedia–>klo gag salah) setelah semua tour selesai. siap siap kembali ke hotel buat packing pulang. perahu jam 14.00 ah, masih ada 1 jam untuk mencari souvenir. disini orangnya kurang pintar membuat kerajinan. mereka hanya membuat pernik pernik, hiasan, membuat tongkat dan tasbih dari kayu setigi dan kayu dewandaru. mitosnya kayu ini membuat orang yang memegang sukses. beragam gantungan kunci juga ada disana. oiya, banyak juga ikan asin yang sudah dikeringkan. jambal, teri dan macam macam lagi. ada juga kaus kaus bertuliskan karimunjawa (disemarang banyak). jam 14.00 saya meninggalkan karimun kembali. kartini 1 sudah menunggu saya dan membawa saya ke semarang lagi. dari atas kapal sunset perlahan lahan datang. semburat kuning yang selalu membuat saya terhenyak nampak sangat indah. saya serasa berlayar diatas emas. sangat indah.
karimun. nantikan aku..
akan kubawa gadisku kepelukanmu..
biar kaki kaki jenjang melangkah dipasir putihmu…
akan kubiarkan anakku menghirup udara pantaimu…
akan kutanam ari ari nya di sasakamu…

lawang sewu

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero
Sejarah Bangunan Lawang Sewu Lawang Sewu adalah salah satu bangunan bersejarah yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda, pada 27 Februari 1904. Awalnya bangunan tersebut didirikan untuk digunakan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta NIS. Sebelumnya kegiatan administrasi perkantoran NIS dilakukan di Stasiun Samarang NIS. Namun pertumbuhan jaringan perkeretaapian yang cukup pesat, dengan sendirinya membutuhkan penambahan jumlah personil teknis dan bagian administrasi yang tidak sedikit seiring dengan meningkatnya aktivitas perkantoran. Salah satu akibatnya kantor pengelola di Stasiun Samarang NIS menjadi tidak lagi memadai. NIS pun menyewa beberapa bangunan milik perseorangan sebagai jalan keluar sementara. Namun hal tersebut dirasa tidak efisien. Belum lagi dengan keberadaan lokasi Stasiun Samarang NIS yang terletak di kawasan rawa-rawa hingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting. Kemudian diputuskan untuk membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang (sekarang Jalan Pemuda), di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal). NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Negeri Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangi di Amsterdam tahun 1903.

gedung setan


Gedung Setan menunjuk sebuah Bangunan tua, berwarna putih kusam, kurang terawat yang terletak di Kampung Banyu Urip Wetan IA No 107, Surabaya. Bangunan dengan luas 400m2 dan terdiri dari dua lantai kini dihuni lebih kurang sejumlah 40 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa, kebanyakkan dari etnis Tionghoa dan beberapa diantaranya blasteran Tionghoa-Jawa.
Posisi Gedung Setan sangat strategis karena berada tidak jauh dari jalan raya. Kalau anda melewati kawasan Kupang dari arah Selatan maka tepat disebelah kiri anda akan disuguhi pemandangan yang ”vulgar” gedung ini. Sebuah ekspose peninggalan tempoe doeloe yang masih tegar berdiri diabad 21. Tapi mengapa gedung ini rasanya masih seperti belasan tahun silam?

Asal muasal gedung ini menyandang nama yang cukup menyeramkan ”gedung setan” belum diketahui secara otentik namun dari cerita-tutur warga setempat nama tersebut berasal dari pemilik gedung sendiri, ceritanya setelah dihuni puluhan tahun ternyata gedung ini menjadi dihuni burung walet. Agar sarang burung walet aman dan tidak dijarah maka gedung ini diberikan identitas sebagai “Gedung Setan”. Perlu diketahui kawasan sekitar gedung dikenal rawan kriminalitas sejak dahulu.
Diperkirakan bangunan gedung ini sudah ada sejak masa pendudukan Belanda sebelum perang kemerdekaan. Yang mempunyai hak milik atas gedung setan adalah pengusaha bernama Teng Kun Gwan atau dikenal dengan nama Gunawan Sasmito (keturunan ketujuh dari pemilik gedung).
Gedung setan pada zaman dulu merupakan kompleks tempat persemayaman warga Tionghoa dan letaknya berada dalam satu kompleks dengan pemakaman Cina. Rasa-rasanya Gedung setan ini amat berjasa bagi warga Tionghoa.Para penghuni “Gedung Setan” menempatinya secara turun-temurun, sejak awal gedung ini menjadi tempat penampungan para pengungsi keturunan etnis Cina-Jawa, sekitar tahun 1948-1949.
Setelah peristiwa G30S PKI melanda tanah air, ‘Gedung Setan’ ini menjadi tempat bong-bong Cina dan lama kelamaan berubah menjadi perkampungan dan rumah-rumah penduduk. Sampai saat ini para penghuni awal dan keturunannya masih terus menempati gedung ini.
Sudah ratusan kali rasanya melewati gedung setan ini tapi saya merasa beruntung karena pernah mengunjungi langsung gedung ini, sejak lantai satu terkesan agak menyeramkan, umumnya para penghuni membagi ruang dengan cara menyekat-sekat bahkan Karena keterbatasan ruangan maka ada ruangan yang bersifat multifungsi. Beberapa kamar-kamar dari penghunipun terlihat sederhana. Dilantai dua terdapat tempat ibadah warga yaitu Gereja Pantekosta. Mayoritas warga penghuni beribadah digereja ini.
Hal yang diluar dugaan adalah terbangunya ikatan sosial yang sangat kuat diantara para penghuni, mereka hidup rukun satu sama lain. Modal sosial (social capital) yang terbangun antar penghuni diekspresikan antara lain dengan merawat kebersihan gedung semampunya, saling bantu-membantu antar sesama penghuni, dll. Trust menjadi kunci keharmonisan dari komunitas Gedung Setan , hal demikian bisa dimaklumi karena para penghuni sudah menjadi sebuah komunitas yang telah berinteraksi puluhan tahun.
Para penghuni selama ini dikernakan beban PBB (Pajak Bumi Bangunan) oleh pihak Pemerintah Kota Surabaya. Dulunya para penghuni sempat diminta membayar uang sewa pada dinas perumahan surabaya, karena saat itu gedung ini dianggap sebagai aset pemkot Surabaya. Kita semua berharap ada perhatian dari berbagai pihak tentang status gedung setan, sehingga tidak semakin merana dan tidak mungkin pula rusak dan runtuh. Disisi lain masih ada ratusan warga telah tinggal dan menetap disana sejak puluhan tahun silam

my little my generasi

ni anak qi

tugu pahlawan surabaya

Tugu Pahlawan, adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Monumen ini setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia. Koordinat: 7°14′45″S 112°44′16″E / 7.245808°LS 112.737785°BT / -7.245808; 112.737785
Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
Monumen Tugu Pahlawan menjadi pusat perhatian setiap tanggal 10 November mengenang peristiwa pada tahun 1945 ketika banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan.

Monumen ini berada di tengah-tengah kota di Jalan Pahlawan Surabaya, dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Tugu ini merupakan titik 0 (nol) kilometer untuk kota Surabaya. Berdiri di atas tanah lapang seluas 1,3 hektar, dan secara administratif berada di wilayah Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya.

Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen yang terletak di Jalan Pahlawan Surabaya ini. Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.
Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Surabaya, Doel Arnowo. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.
Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 Nopember 1952.

Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan ini terdapat sebuah museum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang berjuang di Surabaya, di museum ini juga terdapat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan. Museum ini diresmikan pada tanggal 19 Februari 2000 oleh Presiden K.H Abdurrahman Wahid.

Pada tahun 1991-1996 dilakukan pembenahan kawasan Tugu Pahlawan dan Museum Perjuangan 10 November Surabaya yang dipimpin oleh arsitek Ir. Sugeng Gunadi, MLA dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember